Blues, siapa yang tidak kenal dengan aliran musik yang satu ini, musik blues sendiri terlahir dari negeri paman sam “Amerika Serikat”. musik blues sendiri sangat berpengaruh terhadap lahirnya musik-musik populer baru di dunia, seperti dapat kita lihat dalam genre Bleus Rock, Electric Blues, Bluegrass, Rhythm and blues, Rock and roll, Hip Hop, Reggae, Country, Jazz dan musik populer luar negeri lainnya. Musik blues sendiri sangat populer di indonesia walau tidak sepopuler musik pop, ada beberapa band indonesia yang beraliran blues yang mengangkat nama blues di indonesia lebih dikenal masyarakat. Di Bali sendiri ada satu nama yang cukup fenomenal dengan bermain dalam warna musik ini. Ya, dia adalah Made Candra yang lebih akrab dengan nama Made Mawut.

Di tengah-tengah maraknya format band di scene Indie Bali, Made Mawut berani tampil sendirian  dan berkarir dengan warna musik yang cukup berbeda. Tapi itulah yang membuat karyanya semakin orisinal dan membuatnya semakin dikenal. Selain itu, Made juga berani bersuara lantang lewat lirik-lirik yang dituliskannya.

Saat musik Indonesia sedang terjerumus dalam kubangan arus pasar, pragmatis, dan liberal, Made Mawut berani hadir menjadi salah satu simbol baru sebagai musisi yang merepresentasikan kegelisahan seorang seniman atas kondisi sosial yang sedang terjadi di Indonesia. Melalui album perdana yang dirilisnya tiga tahun lalu, Made banyak membicarakan tentang krisis di negeri ini dalam alunan musik blues. Tema sosial yang diangkatnya di album tersebut cukup beragam, mulai dari Krisis Air, Krisis Pangan, Krisis Swasembada, Krisis Subsidi, Krisis SDM, dan Krisis Nurani. Hanya ada satu lagu yang tak menggunakan kata krisis, Hukum Rimba yang merupakan sebuah lagu orisinil dari unit punk Jakarta, Marjinal. Dengan alunan musik blues yang ringan, dan mudah dicerna, Made Mawut telah menjadi pahlawan baru dari scene musik ini. Bukan tidak mungkin jika suatu hari nanti Made Mawut akan sebesar idola-idolanya. Jika Amerika punya Bob Dylan, Indonesia punya Iwan Fals, Bali punya Made Mawut. Pahlawan baru bagi orang-orang yang terpinggirkan. Seorang seniman yang tak kan berhenti menyuarakan sebuah ketidakadilan dan krisis yang masih terjadi di negeri ini.

01. Sebelum kita berbicara lebih banyak, saya ingin tau, seperti apa perkenalan Made Mawut dengan musik?

Perkenalanku dengan musik itu berawal dari lingkungan, jadi dulu itu orang tuaku sering muterin lagu dan mereka sering menyanyikan lagu tersebut. Selain itu mereka juga sering main gamelan dirumah sambil nyanyi. Tapi kalau ketertatikanku terhadap pop culture dan musik barat sendiri bermula saat aku dan ibu pindah tempat tinggal di daerah dekat Jalan Gatot Subroto, kebetulan saat itu tetanggaku disana senang main musik dan disana kita juga sering ngumpul-ngumpul, main gitar, dan nyanyi-nyanyi. Terus disana ada satu orang yang jadi distributor kaset, aku sering liat-liat koleksi kasetnya dan muterin lagu-lagu dari kaset tersebut.

02. Berarti bisa dikatakan mereka yang memberikan referensi terhadap musik yang Made gemari?

Mungkin bisa dikatakan gitu sih, tapi sebenarnya yang memberi referensi terbesar itu ibu sih, karena waktu itu aku tinggal sama ibu dan beliau sering memutar lagu-lagu lama. Jadi semacam sentimentil gitu, setelah aku punya referensi sendiri, dan kebetulan tetanggaku itu gak jauh juga seleranya sama ibu. Mungkin kalau masalah referensinya pada akhirnya aku sendiri yang memilih, tapi kalau inspirasinya datang dari ibu.

03. Saya sempat mendengar, sebelum menjadi seorang musisi dulunya kamu sempat menempuh sekolah memasak di Hawai. Apa yang menyebabkan kamu banting setir menjadi seorang musisi?

Sebenarnya dari dulu aku pingin sekali dikenal dan menjadi musisi. Tapi dulu itu aku gak melihat kalau musisi itu bakal bisa menjadi lahan untuk mencari nafkah, karena waktu itu musik rasanya cuman untuk sekedar menjadi hobi saja, aku belum melihat kesempatan disini. Karena dulu beda sekali, gak seperti sekarang. Dulu musisi yang segmented itu susah nyari job, mungkin cuman band top 40 aja yang bisa dikatakan banyak job.

04. Saat memulai karir sebagai seorang musisi, berapa lama waktu yang diperlukan untuk menemukan karakter musik yang Made mainkan saat ini?

Jadi dulu itu awalnya aku kepincut banget sama Bob Marley karena musik dan sajak-sajak yang dia buat, serta perjuangan yang dia sampaikan sebagai pesan dari lagu-lagunya. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai kenal sama Bob Dylan gara-gara tetanggaku sering muterin lagu “Blowin’ In The Wind”, terus dia nyeritain pesan dari lagu tersebut. Dan kebanyakan lagu-lagu dari Bob Dylan juga memiliki pesan dan misi yang sama dengan Bob Marley, aku jadi tertarik juga untuk mendengar Bob Dylan sampai mencari tahu tentangnya. Setelah aku cari tahu tentang Bob Dylan, baru aku mulai mengenal musik Blues, karena roots musik yang dia mainkan itu Blues. Soalnya kalau dilihat dari historicalnya sendiri aku rasa ini adalah salah satu musik yang bisa merepresentasikan apa yang aku mau dari musik.

05. Ada alasan tertentu kenapa memakai nama “Mawut” sebagai nama panggung? Ada filosofi khusus?

Sebenarnya untuk lucu-lucuan aja sih, gak ada filosofi khusus. Karena dulu sebelum memakai nama “Mawut” aku sempat memakai “Maut”, untuk bercanda aja sih. Soalnya kalau di Bali, “Maut” itu bisa berarti keren. Tapi kemudian aku rasa kalau nama itu terlalu menyeramkan, akhirnya aku ubah jadi “Mawut”, karena saat itu sering diplesetkan sama teman-teman. Kebetulan nama tersebut juga merepresentasikan warna musik yang aku usung di album “Blues Krisis”, dimana di album tersebut aku campur-campur dan menggabungkan berbagai macam style dari musik Blues.

06. Jika berbicara tentang lirik, kamu adalah satu dari sekian musisi yang kritis dan berani menyuarakan ketidakadilan yang sedang terjadi saat ini. Kalau saya boleh tau, bagaimana kamu menentukan tema dari lirik lagu yang dibuat?

Gak jauh-jauh dari kisah idola-idola aku, dimana mereka buat lagu dari situasi yang meresahkan mereka. Sepertinya bukan masalah lagunya yang kritis bagiku, tapi memang “masalahnya” tetap sama dan masih ada dari dulu. Makanya pada akhirnya lagu-lagu seperti itu selalu ada. Seperti yang aku bilang tadi, Blues itu kalau dari rootsnya memang banyak membicarakan tentang ketidakadilan yang terjadi di masyarakat sehari-hari. Dan aku menyesuaikannya dengan membicarakan apa yang terjadi di sekitar saja biar lebih kontekstual dan sesuai dengan tempat dimana aku hidup. Karena rasanya gak nyambung kalau saya membicarakan apa yang terjadi di negara lain sementara di Indonesia sendiri masih banyak masalah yang masih terjadi.

07. Sejak kapan kamu mulai tertarik untuk berbicara mengenai hal-hal berbau sosial-politik?

Sejak saya mengenal Bob Marley sih sebenarnya, menurutku dia yang bertanggung jawab memberi titik awal kenapa aku tertarik untuk berbicara tentang hal seperti ini. Makanya kalau musik Blues sendiri aku lebih suka dengerin musik Blues di era pre-war, karena lebih representatif dengan itu. Memang sih setelah era tersebut ada beberapa yang masih membicarakan hal yang sama, tapi sayangnya di era British Invassion yang dibawa ke Indonesia itu kebanyakan berbicara tentang whiskey, women, sex, dan drugs. Terus terang aku gak nyantol dengan hal-hal tersebut. Saat SMA aja aku lebih kepincut sama musik Sex Pistols, karena selain dari estetik dan seninya, aku suka sama musik yang memiliki pesan dan spirit semacam itu di warna musik apapun.

08. Nah, barusan barusan kamu ngomongin estetik. Saya ingin tau, sebagai seorang seniman yang mengutamakan pesan di dalam karya, bagaimana kamu memposisikan sebuah estetika dari lirik-lirik yang kamu buat di album “Blues Krisis”?

Sebenarnya pakem tersebut sudah ada, jadi di album tersebut aku memang berencana untuk membuat blues dengan gaya tradisional dengan lirik-lirik yang bisa lebih mudah dimengerti dengan bahasa sehari-hari seperti orang diskusi. Bagiku itu adalah sebuah penggabungan yang aku anggap esktetik dalam lirik yang aku buat untuk membalut musik yang aku mainkan.

09. Selain karena ingin menyampaikan kritik dan pesan, apa concern terpenting ketika Made membuat sebuah lagu?

Mungkin selain itu, bisa dibilang lagu-lagu yang aku buat ini sebagai pengingat diri juga, jadi semacam teman curhat aja dan rangkuman cerita yang tulis dalam sebuah diary atas kegelisahan-kegelisahanku terhadap apa yang sedang terjadi di negeri ini.

10. Sejauh mana pandanganmu tentang konsep-konsep lirik yang kamu buat dan bagaimana juga cara kamu untuk merealisasikannya dalam masyarakat?

Mulai dengan komunitas pastinya meski secara perlahan. Seperti kasus Tolak Reklamasi ini adalah sebuah pelajaran bagiku untuk bergerak dalam sebuah gerakan. Karena ini adalah sebuah kesempatan untuk menerapkan semua ideologi yang aku punya bersama dengan masyarakat untuk bergerak bersama demi tempat tinggal kita.

11. Apakah menurut kamu dengan menyampaikan kritik lewat lagu akan memberi ruang tafsir yang cukup kuat pada audiens hingga masyarakat mulai ikut memperjuangkan apa yang diperjuangkan oleh musisi tersebut?

Ya memang harapannya sih seperti itu, karena setelah karya itu diluncurkan sebagai seorang penyampai pesan lewat karya-karya yang diluncurkan pastinya musisi tersebut berharap bahwa pesan itu nyampai dan tujuan dari apa yang disampaikan itu bisa mengubah pola pikir pendengar dan masyarakat untuk turut bergerak bersama dalam memperjuangkan apa yang seharusnya diperjuangkan.

12. Sejauh ini bagaimana pengamatanmu terhadap cara konsumsi audiens terhadap lirik-lirik kritis yang telah kamu buat?

Kalau aku lihat, setelah dirilisnya album “Blues Krisis”, dikalangan kawan-kawan dan di lingkungan banjar pada akhirnya mereka mulai terbuka dengan hal-hal yang aku bicarakan, bagiku itu adalah hal yang baik. Karena setidaknya pesan-pesan yang aku sampaikan bisa dikonsumsi mereka dan membuat mereka lebih peka dengan apa yang terjadi di sekitar mereka.

13. Dari sekian banyak lagu kritis yang ada kenapa memilih “Hukum Rimba” dari Marjinal untuk di cover dan dimasukkan ke dalam album?

Karena aku memang sangat akrab dengan lagu itu, dari dulu sering dengar lagu itu. Ditambah lagi ada temenku yang bernama Gede Putra, dia dulu sering nyanyiin lagu itu saat open mic. Dia juga yang ngasih latar belakang dari semua cerita lagu-lagu yang telah aku susun dalam konsep album “Blues Krisis”. Aku rasa lagu “Hukum Rimba” sendiri memiliki pesan yang sangat kuat untuk merangkum situasi dan cerita-cerita sekarang yang aku sampaikan dalam album tersebut.

14. Lalu ada kesulitan gak saat meminta ijin kepada Marjinal sebelum membawakan ulang lagu tersebut dengan versi Made Mawut dan memasukkan lagu tersebut ke dalam album “Blues Krisis”?

Gak ada sama sekali. Kebetulan waktu itu aku main di Jakarta bareng Marjinal, disanalah aku minta ijin untuk memakai lagu tersebut. Dan mereka sangat welcome serta mengijinkan aku membawa lagu itu karena memang lagu tersebut tidak ada copyrightnya, jadi siapapun legal untuk membawa lagu tersebut kata mereka.

15. Saya rasa itu saja, ada yang ingin kamu sampaikan sebagai penutup perbincangan kita?

KIta ini makhluk politik, jadi politik itu bukan hanya milik penguasa, jadi gak usah takut sama politik dan memang kita harus belajar politik agar bisa lebih peka bahwa sebenarnya ada hal yang tidak-baik saja yang sedang dan masih terjadi. (YS)