Brozio Orah yang lahir 25 Mei 1979, adalah seorang basis sekaligus penulis lagu asal Bali, Indonesia. Sebelum lebih dikenal sebagai basis dari trio folk-blues “Dialog Dini Hari”, Brozio Orah yang lebih akrab disapa Zio memulai perjalanan karir profesional di industri musik bersama “Hydra” yang kemudian bertransformasi menjadi “The Hydrant” yang sangat melejit dan dikenal di Indonesia terutama sebagai band pertama yang memainkan dan mengenalkan kembali musik Rockabilly di Indonesia.

Bersama “The Hydrant”, Zio sempat merilis dua album bertajuk Saturday Night Live dan Rockabilly Riot sebelum akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri di medio 2008 dan kemudian bergabung bersama Dialog Dini Hari untuk menggantikan posisi yang ditinggalkan Ian Joshua Stevenson. Seakan tidak cukup berkarya dan menjajal panggung demi panggung bersama Dialog Dini Hari, Zio terus melanjutkan kreatifitasnya lewat proyek solonya dan akan merilis album perdananya dalam waktu dekat ini. Album tersebut diberi judul “See The Sun” dan akan berisi 8 lagu dengan perpaduan warna musik pop-jazz dan r&b yang renyah untuk dinikmati.

Digambarkan sebagai sebuah koleksi lagu-lagu yang cukup personal dengan sebuah suara yang penuh dengan cinta, harapan dan pengalaman hidup, lagu-lagu dalam album See The Sun sepenuhnya ditulis dan diproduseri oleh Zio sendiri. Pun begitu, beberapa muatan karya Zio turut dibantu oleh sejumlah musisi luar biasa lainnya yang turut berkonstribusi mengisi beberapa instrumen untuk memperindah lagu yang diciptakan oleh Zio. Usaha Zio bersolo karir dalam album ini perlu diacungi jempol. Sebagaimana musisi besar lainnya, Zio bisa dibilang sudah mulai memiliki “pattern-nya” sendiri dalam bermusik. Dalam debut album solonya ini, Zio memilih untuk mempersembahkan idealisnya dalam bermusik dan sedikit menanggalkan bayang-bayang Dialog Dini Hari dengan menunjukkan sisinya yang lembut sekaligus melankolis melalui alunan nada dan beat-beat yang menarik untuk disimak. Dalam edisi kali ini kami mendapatkan kesempatan untuk berbincang bersama Zio, membahas lebih lanjut mengenai proyek album solonya yang seharusnya diantisipasi oleh para penikmat musik di skena Independen.

 01. Hello Zio, apa kabar? Belakangan ini saya sering melihat tagar “See The Sun” di setiap postingan dalam media sosialmu, boleh dengar secara detail tentang hal tersebut? Kalau boleh tau sudah sejauh mana proses pengerjaan album “See The Sun”?

Baik. See The Sun itu adalah album solo pertama saya, saat ini prosesnya sudah sampai tahap duplikasi. Mudah-mudahan dalam waktu 14 hari kerja sudah kelar dan bulan Agustus nanti sudah bisa didistribusikan.

02. Bisa diceritakan ide dari album kamu ini apa? Dan apa yang melatarbelakangi Zio dalam merilis album ini?

Sebenarnya ide bikin album ini sudah lama. Tahun 2008 aku udah sempat merekam beberapa materi untuk proyek solo ini, tapi saat itu saya mendapat tawaran manis dari Dialog Dini Hari untuk mengisi posisi bass. Jadi waktu itu aku harus fokus ke Dialog Dini Hari dulu, dan selain itu juga saya masih merasa malu-malu untuk proyek solo ini [tertawa] Akhirnya setelah lama terbengkalai, tahun lalu Deni Surya bersihin file komputernya dan nyuruh saya untuk bawa hard disk dan dia memberi saya semangat untuk meneruskan proyek ini lagi. Trigger-nya dari situ sih selain karena aku juga sering perform sendiri sama teman-teman di luar Dialog Dini Hari.

03. Gimana rasanya keluar dari bayang-bayang “Dialog Dini Hari” sejenak dan menciptakan musik yang jauh berbeda?

Rasanya seru aja, karena aku disini produce sendiri, arrange sendiri, dengan trigger lagu-lagu lama yang udah kerjain. Memang sih disini aku ngemasnya gak mau terlalu susah, biar lebih bisa mudah dinikmati aja sama masyarakat dan keluarga. Kalau dibilang keluar dari bayang-bayang sih enggak, mau gimanapun juga aku ya bassis “Dialog Dini Hari”. Bahkan teman-teman Dialog Dini Hari juga sangat membantu. Terutama Deni, dia main 3 lagu dan bantu mixing mastering. Dadang juga banyak ngasih  masukan saat final mixing karena dia yang lebih biasa sebagai produser.

04. Bagaimana proses rekaman album “See The Sun” ini terjadi?

Proses yang paling seru bagiku itu di lagu “Tanah, Air, Udara” sebagian trek itu masih memakai file rekaman yang aku rekam di tahun 2008. Dilagu tersebut aku dibantu sama Edi dari “Zat Kimia” juga waktu itu, jadi ada dua bass dan dua drum. Yang lain sih kebanyakan aku record baru, kebanyakan aku rekam di rumah, kecuali drum yang memang aku rekam di studio proper seperti Antida, Studio Royal di Bintaro, dan satu lagu di tempatnya Ian Zat Kimia.

05. Adakah musisi lain yang turut berkontribusi dalam album ini? Ada alasan tertentu kenapa mengajak mereka?

Banyak sih, yang jelas Deni Surya dan Morris Orah yang banyak bantu ngisi drum di album ini. Terus Edi “Zat Kimia” main bass di lagu “Tanah, Air Udara”. Ada Azfansadra Karim dari band Tomorrow People Ensemble yang ngisi hammond di lagu tersebut juga. Fendi Rizki ngisi stand up bass di lagu “Tak Tersisa”. Terus ada Tito Jonathan yang ngisi trompet. Saya rasa itu aja sih.

06. Apakah para kolaborator yang ada di album ini mendapat intervensi dari Zio atau Zio biarkan mereka untuk bereksperimen dan mengisi sesuka hati mereka saat merekam album ini?

Mungkin gak bisa dibilang intervensi sih, tapi lebih ke ngasih masukan. Kebanyakan ada di drum, tapi pada akhirnya mereka yang eksekusi sendiri, aku cuman ngasih gambaran aja. Kalau si Azfansadra  lucu sih, awalnya dia mau kirim dua sampai tiga kali fill yang dia rekam untuk lagu tersebut karena dia rekamnya di Jakarta, tapi saking gila dan jagonya dia, baru sekali kirim juga aku udah langsung sreg dengan apa yang dia rekam. [tertawa]

07. Apa yang dibayangkan seorang Zio saat menggarap album “See The Sun”?

Yang aku bayangkan adalah manggung di stadion gede dengan penonton yang padat. [tertawa]

08. Secara musikalitas, warna musik apa yang Zio tawarkan dalam album ini?

Nah ini yang paling susah dijawab, karena delapan lagu itu beda-beda warnanya. Jadi macem-macem sih warna musiknya, makanya aku juga bingung untuk jelasinnya, biar pendengar sendiri nanti yang mendeskripsikan warna musik yang aku mainkan di album ini. [tertawa]

09. Saat mengerjakan album ini, Zio banyak mendengarkan album apa sebagai referensi?

Segitu-segitu aja sih yang aku dengar, masih sekitar Sting, Michael Jackson, dan musik-musik R&B akhir 70’an untuk nyari sound synthnya.

10. Track yang mana yang pertama kali di rekam? Ada keseruan apa yang terjadi dalam penggarapan album ini?

Kalau yang paling pertama direkam sebelum bener-bener dikerjakan itu “Tanah, Air, Udara” di tahun 2008. Tapi saat udah bener-bener mulai serius dikerjakan, yang pertama direkam “Laguku” dan “See The Sun” baru nyambung lagu-lagu yang lain.

11. Dari 8 trek yang ada di dalamnya, ada alasan khusus kenapa memilih judul “See The Sun” sebagai judul album?

Tadinya mau pakai judul “Laguku” sebagai judul tapi setelah dipikir-pikir lagi sepertinya lebih enak “See The Sun”. Dan selain itu saat final mastering udah jadi aku dengerin ke beberapa temen, kebanyakan dari mereka suka sama lagu “See The Sun” karena paling nyangkut dan paling gampang dinikmati dan maknanya juga paling bagus kalau menurutku.

12. Komposisi lagu di album ini kan dikerjakan sendiri. Apa ini hasil mengumpulkan karya atau dikerjakan khusus dalam periode tertentu demi merilis sebuah album solo?

Mungkin bisa aku bilang fifty-fifty karena ada karya lama yang akhirnya aku bongkar lagi dan ada beberapa yang memang sengaja aku bikin aku untuk mengisi album ini.

13. Ada kesulitan yang dihadapi hingga album ini dirilis?

Semua sulit-sulit gampang sih menurutku karena semuanya aku ngurus sendiri. Normal lah kesulitannya, kebanyakan masalah waktu dan teknis aja. Tapi kalau untuk rekamannya sendiri paling susah itu lagu “Love From Above”, karena lagu itu aku ngulang rekam sampai tiga kali sampai benar-benar puas. Dari sekian lagu yang ada “Love From Above” paling banyak ngabisin waktu. Mulai dari pergantian drummer, tempo, sampai akhirnya aku minta Deni Surya yang bantu untuk ngisi lagu itu. Kuncinya emang di beat sih emang album ini, kalau beatnya gak enak aku ngerasa kurang aja. Bukan karena mainnya, semua mainnya udah bener, tapi temponya yang kadang aku kurang sreg. [tertawa]

14. Kalau boleh saya tau, secara konseptual album “See The Sun” bercerita tentang apa sih? Lalu untuk tema dan liriknya sendiri, secara garis besar Zio banyak membicarakan tentang hal apa di album ini?

Nggak ada tema besar. Secara keseluruhan temanya ya tentang perspektif personal saya aja, soal segala hal. Karena lirik-lirik yang ada di album ini kebanyakan lebih bercerita tentang “Hope, Love, & Memory”. Jadi gak ada konsep tertentu yang coba aku tuangkan dalam album ini, karena semua lagu yang aku ciptakan di album ini ngalir begitu aja. Dan kebetulan proses aku buat lagu biasanya dimulai dari garap musiknya dulu baru liriknya untuk mengikuti mood dan flow dari musik yang aku buat.

15. Ada hal yang Zio persiapkan secara khusus untuk mempromosikan album ini ke khalayak?

Yang jelas sekarang aku sudah mulai bergerilya ke temen-temen deket dulu untuk promosi mengenai album ini, terus nanti tahap berikutnya kalau gak ada halangan semoga bisa launching di Jakarta. Dan pengennya sih setelah itu bisa mulai banyak manggung juga untuk bisa lebih mempromosikan album ini. [tertawa]

16. Bagaimana Zio melihat dunia musik tanah air khususnya pop-jazz belakangan ini?

Waduh, aku kurang ngikutin scene pop-jazz Indonesia, karena sepertinya menurutku saat ini scene Folk dan Pop/R&B yang masih kenceng gaungnya di industri musik, tapi bisa aja aku salah. Karena kalau menurutku saat ini mungkin pasarnya masih ke arah warna musik lain. Mungkin karena beberapa lagu pop/jazz masih terkesan terlalu berat untuk bisa dinikmati sama semua kalangan di Indonesia.

17. Ada plan tour promo untuk album ini?

Mudah-mudahan ada yang mau sponsori aku tour. [tertawa] Pengen sih sebenernya, karena sebelumnya di bulan April – Mei aku sempat bikin showcase gitu untuk proyek solo ini. Kedepannya pengen sih sebenarnya, cuman masih nyari jalannya aja, biar gak sendiri tournya, jadi ada band-band yang di ajak tour biar rame.

18. Saya rasa itu saja, ada yang ingin kamu sampaikan untuk menutup perbincangan ini?

Terima kasih untuk Pica Magz, semoga nanti di ajak manggung lagi sama Pica. [tertawa] (YS)

Photo by : Guswib