Kalau ngomongin Band yang bermain di ranah musik Punk dalam skena musik bawah tanah Bali, udah pasti banyak banget dan udah gak terdeteksi nominalnya. Namun dari nama-nama potensial yang ada, haram hukumnya jika kita tidak menyebutkan nama Ugly Bastard di dalamnya.

Ugly Bastard sejatinya adalah band yang sudah cukup lama berkecimpung dalam ranah musik bawah tanah pulau dewata. Kuartet Hardcore / Punk yang berasal dari Denpasar, Bali, Indonesia ini resmi terbentuk pada tahun 2005 dengan formasi awal Bom – Bom (Vokal, Gitar), Okky (Vokal Latar, Bass) dan Ihsan (Drum) hingga pada bulan-bulan menjelang akhir tahun 2009 Gilang (Gitar, Vokal) masuk untuk melengkapi formasi tersebut. Ugly Bastard adalah salah satu representasi yang sangat menjanjikan dari ranah Hardcore / Punk Bali. Gaung Ugly Bastard mungkin jauh dari hingar bingar pembicaraan, namun jejak mereka ada di mana-mana. Mereka hadir sebagai salah satu representasi dari kerumunan orang yang volume suaranya diperkecil dan merasakan kegelisahan terhadap ketimpangan yang dihadapi dalam keseharian. Dengan lirik-lirik yang ditulis dalam bahasa yang lugas dan simpel tanpa sebuah metafor yang terkadang susah dimengerti oleh khalayak. Bisa dikatakan, Ugly Bastard adalah salah satu dari sedikit saja sisa band punk lokal yang masih mempertahankan punk sebagai ancaman dengan berbagai perlawanan lewat musik yang mereka mainkan.

Melalui musik bernafaskan Hardcore / Punk mereka mencoba meruntuhkan tembok para perugi dan menyampaikan pesan-pesan yang kritis dan jujur dalam memandang dunia dan permasalahannya lewat musik yang mereka mainkan. Seperti band-band yang sudah besar di jalurnya semacam Superman Is Dead, Navicula, Ugly Bastard juga ingin menjaga alam Bali melalui protes yang mereka sampaikan lewat karya-karyanya dan tidak segan untuk turun kejalan langsung bersama segenap lapisan masyarakat demi melakukan perlawanan untuk membatalkan reklamasi yang akan dilakukan pada area konservasi teluk Benoa. Selama karirnya, Ugly Bastard sedikitnya sudah menghasilkan dua rilisan dan satu split tape bersama Undersick. Baru-baru ini mereka juga telah melangsungkan tour kedua negara tetangga. Rangkaian tur lintas dua negara – Singapore, dan Malaysia yang bertajuk “See Bali, The Lost Paradise Tour 2017” menyambangi total 5 kota dalam kurun waktu selama tujuh hari. “See Bali, The Lost Paradise Tour 2017” merupakan proyek tur yang dikelola secara mandiri oleh Ugly Bastard dengan dibantu oleh relasi dan kolega mereka sebagai show/gig organizer di berbagai daerah. Simak perbincangan Pica Magz dan Ugly Bastard di bawah ini.

01. Hallo Ugly Bastard, apa kabar? Sebelum kita berbincang lebih jauh mungkin bisa diperkenalkan siapa saja personelnya dan kapan kalian resmi terbentuk?

Ugly Bastard mulai dibentuk sekitar tahun 2005-2006 tetapi masih malu-malu, nyari bentuk, kadang hampir mati juga hehe. Bisa dibilang mulai stabil dan akhirnya terus jalan sejak 2008. Tidak ada peresmian, karena pondasinya pertemanan. Jadi berjalan mengalir saja. Terjadi beberapa kali bongkar pasang formasi, dan untuk saat ini yang aktif adalah Bombom (vocal dan main gitar), Gilang (main gitar dan back vocal), Jayak (main bass dan back vocal), kemudian Semar dan Ihsan yang bergantian bermain drum. Punya drumer dua, hehe.

02. Sedikit mundur kebelakang nih, gimana ceritanya kalian bisa mengenal musik hardcore-punk hingga akhirnya tercebur dan bermain dalam ranah musik ini? Apa sih yang ngebuat kalian tertarik dengan musik ini?

Awalnya hanya merasa musik ini cocok dan mewakili gejolak kawula muda saat itu. Tapi seiring berjalannya waktu, terus belajar, kami mulai tahu kalau ternyata HC/Punk itu tidak hanya sebatas musik. Ada budaya literasi yang baik dengan terbitnya banyak zine dari komunitas punk di banyak belahan dunia, artinya di dalam HC/Punk ternyata ada kebiasaan membaca dan menulis yang baik. Ada semangat kemandirian dan membangun jaringan pertemanan yang selalu diterapkan, salah satunya melalui etos DIY. Kemudian, mulai menyadari kalau punk, baik secara individu maupun komunitas juga bergerak aktif di dalam perjuangan-perjuangan yang ada di sekitarnya, berkontribusi terhadap gerakan-gerakan sosial yang ada. Dari beberapa hal itu pada akhirnya menjadi semakin tertarik untuk terus belajar tentang HC/Punk, secara musik maupun hal-hal diluar musik.

03. Terus ada filosofi tertentu gak sih di balik nama “Ugly Bastard” sendiri?

Kalau diterjemahkan artinya Jelek Bangsat, buruk-seburuknya. Karena musik dan mungkin tampang kami buruk, hahaha.

04. Mungkin pertanyaan ini sedikit membosankan, tapi saya ingin tau, kalau dari perspektif kalian sendiri apa sih arti “Hardcore” dan “Punk” bagi kalian?

Hardcore is Punk and Punk is Hardcore. Hardcore dan Punk bukan dua hal yang berbeda jauh, juga bukan dua hal yang bisa dipisahkan. Jika diingat dari latar belakang HC/Punk terbentuk, hingga proses/dinamikanya sampai saat ini, bagi kami HC/Punk adalah cara pandang dan sikap. HC/Punk mengajari kami untuk memiliki cara pandang yang kritis dan haus pembelajaran agar terus berusaha memahami kehidupan termasuk segala permasalahan dan ketimpangan sosial yang berusaha ditutupi oleh sesuatu yang mapan. HC/Punk juga memberikan kami dorongan agar berani bersikap menghadapi apa yang terjadi di kehidupan, termasuk ketika mengetahui ada permasalahan, ketimpangan sosial, dst. HC/Punk menyemangati kami untuk bergerak, dan tetap semangat berkontribusi atau menjadi bagian dari perjuangan-perjuangan yang ada.

05. Sepengetahuan saya kalian adalah band yang masih menjunjung tinggi etos DIY sejak awal dibentuk hingga saat ini, menurut kalian seberapa sulitkah untuk berkarir dan berkarya sebagai sebuah band yang masih memiliki etos DIY di era sekarang?

Kami tidak sedang “berkarir” sih, hehe. Tujuan utama Ugly Bastard ini lebih sebagai alat berteman, dan etos DIY justru memudahkan kami dalam membangun jaringan pertemanan. Beberapa pihak barangkali ada yang salah paham, DIY dengan kepanjangan dari Do It Yourself diterjemahkan secara dangkal tanpa melihat dan memahami konteks serta perjalanan panjang penerapan etos DIY di banyak tempat. DIY atau Do It Yourself secara salah kaprah dianggap sebagai etos yang dibangun secara individual, dianggap dilakukan sendiri tanpa membuka keterlibatan dan kerja sama kawan-kawan yang lain. Padahal Do It Yourself membawa semangat untuk melakukan sesuatu dengan potensi-potensi yang dimiliki secara mandiri, dan di dalam konteks HC/Punk potensi yang dimiliki adalah komunitas itu sendiri, sehingga DIY menjadi etos yang justru mengedepankan kerja-kerja berbasis komunitas dan jaringan pertemanan, jadi tidak dilakukan seorang diri.

Oleh karena itu, pada banyak prakteknya, etos DIY di dalam pengorganisiran gigs musik atau acara lainnya, di dalam perilisan musik, zine, buku, merchandise maupun corak produksi lainnya selalu dilakukan bersama-sama, dengan meminimalisir atau bahkan tanpa melibatkan pihak-pihak diluar komunitas/scene/pertemanan yang sebenarnya tidak peduli dengan hidup-matinya komunitas ini. Di dalam proses berkarya tersebut, etos DIY justru mendorong kami untuk menjadi lebih kreatif dan mandiri, memaksimalkan potensi yang dimiliki untuk memecah kebuntuan dan keterbatasan yang ada.

Tidak usah terlalu lama menunggu sampai ada undangan untuk “manggung di konser”, karena kami bisa membuat gigs bersama teman-teman. Tidak usah terlalu lama menunggu sampai ada label besar yang mau kasi modal rekaman atau merilis album/karya musik kami, karena kami bisa rekam dan merilis album kami sendiri, didistribusikan dengan bantuan jaringan pertemanan yang ada. Begitu juga ketika ingin membuat merchandise, atau mengorganisir tour band. Kami lebih suka menerjemahkan DIY disini sebagai semangat gotong royong dan pertemanan. Jadi Ugly Bastard itu bukan band DIY, tetapi band gotong royong.hehe

06. Sebagai sebuah band yang cukup aktif bergerak dalam scene ini, apa kalian juga melakukan upaya edukasi dan tukar pikiran bersama komunitas hardcore-punk lain?

Bagi kami, pondasi komunitas itu adalah pertemanan dan semangat belajar. Jadi proses belajar dan saling berbagi informasi kepada sesama teman memang menjadi aktivitas yang selalu dilakukan. Kami sering membuat kegiatan nonton bareng dan diskusi yang rutin bersama teman-teman Denpasar Kolektif. Kami membuat perpustakaan zine di kontrakan. Pada saat berkesempatan untuk membuka lapak, kami selalu membawa zine tersebut agar bisa dibaca disana. Selain itu, kami juga sering datang ke jaringan komunitas yang ada untuk saling support dan kerja bareng ketika mereka membuat gigs atau acara lainnya, seperti yang pernah kami lakukan di Negara, Tabanan, Klungkung, Nusa Penida, dst. Kami selalu terbuka untuk belajar bersama.

07. Dari segi ideologinya sendiri, bagaimana kalian melihat para pelaku di scene hardcore-punk Bali saat ini?

Kami kurang tertarik membicarakan ideologi, karena ada yang lebih berkesan daripada ideologi-ideologi tersebut. Sesuatu yang lebih sederhana tetapi memiliki mimpi dan harapan yang besar. Tentang teman-teman di scene HC/Punk yang saat ini semakin bersemangat untuk belajar dan berjuang bersama menolak reklamasi Teluk Benoa. Satu barisan bersama masyarakat dengan berbagai latar belakang, bahu-membahu saling mengisi dan menguatkan untuk mempertahankan Bali. Berani mengatakan TIDAK kepada sesuatu yang tidak benar. Berani bersikap melawan keserakahan yang ingin merampas masa depan kehidupan kita. Hal itu adalah capaian yang cukup besar untuk scene HC/Punk di Bali, dan semoga bisa semakin membesar.

08. Secara global, apa perbedaan yang cukup signifikan menurut kalian mengenai perkembangan scene hardcore-punk di era dulu dan sekarang?

Selain aktifnya beberapa kawan untuk berkontribusi terhadap gerakan sosial yang ada, perkembangan menarik lainnya seperti sudah mulai banyak yang membuka diri untuk membangun jaringan pertemanan dengan yang diluar Bali. Sudah mulai banyak yang mau support gigs komunitas dan kolektif. Dukungan terhadap rilisan fisik mulai tumbuh, begitu juga dengan ketertarikan terhadap zine dan literasi. Intensitas perkelahian di gigs sudah mulai menurun dari sebelumnya. PR kita bersama adalah terus saling mengingatkan dan semakin menularkan kebaikan ini kepada yang belum, agar bisa menjadi lebih baik lagi. Apalagi di era internet saat ini, informasi dan komunikasi menjadi lebih mudah dan cepat, dan kita harus bisa memanfaatkan itu untuk kemajuan komunitas yang lebih baik, untuk pembelajaran yang lebih asik.

09. Seberapa penting menjaga roots dan ideologi dalam bermain musik hardcore-punk bagi Ugly Bastard?

Yang penting itu menjaga pertemanan dan semangat belajar. Bermain musik itu bukan tujuan akhir. Menciptakan situasi yang mampu melampaui musik, untuk mendorong hal-hal yang lebih besar dan baik, itu yang dibutuhkan. Musik adalah salah satu alat, pertemanan dan semangat belajar adalah kuncinya.

10. Oh iya, kalian termasuk  grup musik yang sangat kritis dan berani dalam menyikapi berbagai kebijakan pemerintah serta fenomena lingkungan dan sosial yang terjadi di Bali, kalau boleh tau bagaimana kalian menentukan tema dalam sebuah rilisan dan tema untuk lirik-liriknya sendiri? Karena menurut saya dua rilisan kalian sangat terkonsep.

Dari banyaknya isu-isu sosial politik yang ada, kami coba perdalam sesuai kemampuan, berdiskusi mana yang sekiranya dekat dengan hidup harian yang ada disini, yang sekiranya mudah diterima teman-teman penerima pesan setelah isu tersebut disederhanakan melalui lirik, yang sekiranya lebih berpotensi memberikan dorongan kepada si pendengar untuk semakin memperdalam isu kemudian terlibat di dalam penyelesaian isu tersebut. Beberapa lirik juga ditulis dari apa yang biasa kami jalani di kehidupan harian.

Konsep album pertama dan kedua memang dibuat seperti seri, saling menyambung. Album pertama sebagai pendahuluan, tentang dunia yang sedang tidak baik-baik saja tetapi tidak disadari oleh banyak orang. Album ini ingin berbagi perspektif bahwa di dalam HC/Punk atau yang lainnya, sangat penting untuk memiliki sudut pandang yang berbeda dalam melihat dunia agar terus terpacu untuk berfikir kritis, menggali terus informasi, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di kehidupan ini dan selanjutnya mengambil sikap untuk menghadapinya. Pada mini album kedua, lebih spesifik tentang Bali yang dieksploitasi atas nama industri pariwisata tetapi tertutup oleh gemerlap industri pariwisata sehingga menjadi penting untuk menjaga kesadaran, kemana kita harus melangkah, siapa diri kita, dan apa yang sebenarnya kita butuhkan. Pariwisata apa yang harus kita bangun sesuai dengan identitas dan nilai-nilai yang sebenarnya telah hidup secara arif dan adil. Tujuan akhirnya untuk menyemangati teman-teman agar mau bergerak memperbaiki dan mempertahankan apa yang bisa diperjuangkan. Album kedua ini banyak diinspirasi oleh perjuangan rakyat di Bali yang menolak reklamasi Teluk Benoa.

11. Ada beberapa yang beranggapan kalau menulis lagu bertema politik dan sosial di dunia underground itu useless, karena tidak akan sampai dan tidak akan didengar oleh para elit politik dan masyarakat umumnya. Bagaimana pendapat kalian mengenai hal tersebut?

Musik dan lirik adalah alat untuk berbagi perspektif, dan sasaran utama kami justru teman-teman terdekat kami, yang menghidupi komunitas, yang sering berinteraksi melalui acara-acara komunitas. Harapannya bisa mendorong teman-teman ini untuk semangat belajar bersama, menjadi tahu kemudian berani untuk bergerak bersama dan berkontribusi terhadap gerakan sosial yang ada. Jadi, kami memang tidak sedang memberikan hadiah lagu kepada para elit politik atau kepada Kekuasaan dan Modal yang rakus ini. Kami sedang mempersiapkan perjuangan bersama teman-teman yang ada, untuk melawan kekuasaan dan modal yang menjadi sumber masalah. Ini menunjukkan harapan dan keyakinan kami terhadap komunitas ini cukup besar, sehingga agenda memperkuat dan mengorganisir komunitas untuk selanjutnya menjadi salah satu garda perjuangan yang asik, itu menjadi hal yang lebih penting.

12. Selain sebagai sebuah medium untuk menyampaikan sebuah pesan, apa tujuan utama kalian dengan menulis lirik-lirik dengan tema-tema yang kritis?

Lirik-lirik yang kami buat, hampir semuanya melalui proses mencari tahu, membaca dan, berdiskusi. Proses ini mendorong kami agar tetap semangat dan menjaga kesadaran, menolak dibodohi dan dibohongi oleh sesuatu yang telah mapan. Secara internal dan personal, hal ini membuat kami untuk terus belajar.

13. Sejauh apakah kalian mengimplementasikan lirik yang kalian tulis dalam kehidupan normal kalian di luar band?

Kami tidak mengeimplementasikan lirik yang kami tulis, tetapi kami menulis apa yang biasa kami temui dan lakukan di dalam kehidupan kami. Mengorganisir gigs dan aktivitas pembelajaran, berbagi informasi salah satunya dengan membuka perpustakaan zine, menjaga pertemanan dan saling menyemangati, berjejaring dengan komunitas diluar Bali, menyempatkan waktu untuk belajar dan bantu-bantu di WALHI Bali dan ForBALI, bersolidaritas kepada gerakan sosial yang ada dengan sebaik-baiknya.

14. Mumpung masih hangat nih, gimana tour “See Bali, The Lost Paradise” kemarin? Ada cerita seru yang ingin kalian bagikan disini?

Tour ini dilakukan di Singapura dan Malaysia selama tujuh hari. Lima hari untuk gigs, satu hari bersantai, dan satu hari melakukan interview untuk terbitan kawan dan radio komunitas disana. Gigs-gigs tersebut diorganisir secara mandiri oleh jaringan pertemanan HC/Punk yang sudah ada disana. Satu gigs di dekat kawasan Little India, Singapore dan empat gigs di Malaysia: Melaka, Batu Pahat, Kuantan, dan Kuala Lumpur.

Ada salah satu gigs yang dimulai dari jam 7 malam sampai jam 3 pagi, hehe. Tidak ada perkelahian di dalam gigs. Semua berjalan seru. Antusiasnya cukup baik, interaksi cukup hangat. Beberapa teman disana ada yang ikut kami di beberapa rute gigs, tidak puas bertemu di satu gigs, mereka datang lagi di gigs selanjutnya meskipun tempatnya berjauhan. Tour ini membuat kami mendapatkan teman baru, dan bisa mempererat pertemanan yang lama.

Kata See BALI sebenarnya kami ambil dari slogan iklan lama yang mempromosikan pariwisata Bali kepada dunia, dan See BALI, The Lost Paradise ini kami gunakan untuk mempromosikan perlawanan-perlawanan yang saat ini ada di Bali. Salah satunya adalah gerakan Bali Tolak Reklamasi yang ingin memperjuangkan Bali dengan segala keindahannya agar terhindar dari ancaman industri pariwisata yang rakus. Kesempatan tour ini kami gunakan untuk semakin memperluas informasi, mengabarkan perjuangan, mencoba menggalang solidaritas dari luar Bali.

Sebelum kami berangkat, beberapa orang yang sebelumnya belum kami kenal tetapi tahu kami akan datang ke kota mereka, mengontak kami agar membawa t-shirt fundraising Bali Tolak Reklamasi karena mereka ingin support. Selama tour, banyak teman-teman disana yang tertarik karena gerakan Bali Tolak Reklamasi menjadi salah satu gerakan yang besar di Indonesia, melibatkan banyak pihak termasuk para musisi dan seniman lainnya, sehingga menginspirasi gerakan sosial lainya. Terjadi obrolan-obrolan seru, bertukar pengalaman dan situasi sosial-politik-kultural di masing-masing tempat. Sebelum kami tour, ForBALI dan gerakan BTR juga sempat menjadi bahan pembelajaran yang dipresentasikan di salah satu universitas negeri di Singapore dan pada festival komunitas/perjuangan rakyat di Malaysia.

15. Ada pengalaman yang mungkin kurang menyenangkan namun berkesan selama tour kemarin? Bisa diceritakan…

Semuanya menyenangkan. Bertemu teman-teman, mencoba kuliner lokal, belajar dari komunitas yang ada disana, dsb. Sebagaimana tour-tour sebelumnya yang kami buat di Indonesia, mengorganisir tour keluar Indonesia itu juga sederhana, tidak ribet. Modal utama kami adalah pertemanan. Banyak support yang kami dapat dari teman-teman yang membeli merchandise sebagai fundraising tour, baik dari Bali/Indonesia maupun saat melakukan tour disana. Harapannya setelah ini, semakin banyak teman-teman di Bali yang bersemangat untuk melakukan tour, dalam rangka memperkuat jaringan komunitas di Indonesia maupun luar Indonesia.

16. Dari scenenya sendiri, bagaimana kalian melihat scene musik ini di dua negara tetangga yang kalian sambangi kemarin?

Di Singapore dan Malaysia banyak band-band dengan musik yang keren. Di malaysia teman-teman HC/Punk memiliki ruang komunitas sendiri yang diorganisir secara kolektif dan mandiri. Jadi mereka lebih mudah jika membuat gigs, diskusi, nonton film, pameran seni, atau acara-acara komunitas lainnya karena memang sudah memiliki tempat sendiri.

Ketertarikan terhadap rilisan fisik disana juga cukup besar. Hampir semua DIY/Indie Distro/Shop lebih banyak mendistribusikan rilisan fisik musik ketimbang t-shirt. Bisa dibilang disana 75% berisi rilisan musik seperti piringan hitam, tapes, CD, dan 25% berisi t-shirt, zine, atau merch lainnya. Oiya, teman-teman di kedua negara tersebut berkumpul di dalam komunitas tidak mengenal batas suku, ras, maupun agama. Melayu, India, Cina, atau yang lainnya. Semua asik bersama. No place for Racism. Good space, good communitty, good family.

17. Apa rencana terdekat Ugly Bastard setelah ini?

Menyiapkan materi baru untuk album berikutnya. Mulai menabung dan mematangkan rencana tour selanjutnya.

18. Saya rasa itu saja, terima kasih banyak atas waktunya. Ada yang ingin kalian sampaikan sebagai penutup perbincangan ini?

Terima kasih PICA Magz. Tetap semangat untuk terus berbagi informasi yang baik, dan lebih baik lagi. Be the Media! Untuk komunikasi dan pertemanan silakan kontak kami di http://facebook.com/Jelekbangsat dan cel beberapa lagu kami di http://uglybastard.bandcamp.com (YS)