Matematika adalah sebuah nama mata pelajaran yang tak lepas dari hitung-hitungan. Sebagian orang tidak menyukai mata pelajaran ini, Matematika ini terkenal sebagai musuh besar dari para pelajar di seluruh dunia karena memang sangatlah susah dan rumit. Dalam musik sendiri ada beberapa band yang memasukkan unsur hitung-hitungan seperti halnya mata pelajaran matematika dalam musiknya. Di awal 2000-an, sebuah genre baru yang diberi nama “Mathcore” mulai muncul ke permukaan. Jika dibedah kata tersebut, ‘Math’ berarti Matematika, dan ‘Core’ merupakan suku kata dari aliran Hardcore. Para band atau musisi pengusung genre ini cenderung mengganti-ganti tempo dan ketukan musik mereka secara random atau tidak beraturan. Pun begitu musik jenis ini bukanlah sebuah musik yang tidak diminati seperti halnya mata pelajaran Matematika. Sebut saja band-band semacam Converge, The Dillinger Escape Plan, The Number 12 Looks Like You, Coalesence, Into The Moat, The Tony Danza Tapdance, Extravaganza, dan lain lain yang menjadi besar dengan memainkan warna musik tersebut.

Di Indonesia sendiri ada beberapa nama berbahaya yang bermain dalam ranah musik tersebut. Ada Alice (Bandung), Deadly Eye Candy (Bogor), For The Flames Beneath Your Bridge (Jakarta), dan lain lain. Lalu bagaimana dengan Bali? Baru-baru ini Bali memiliki sebuah kuintet belia yang bermain di jalur musik mathcore. Mereka adalah Advark, kuintet mathcore yang resmi berdiri sejak pertengahan 2015. Digawangi oleh vokalis Agung, drummer Windu, gitaris Pandu dan Adi, serta bassist Weda, Advark berani unjuk gigi dan muncul menjadi salah satu pelopor yang bermain di ranah musik mathcore disaat skena metal Bali masih dipenuhi oleh warna musik Metalcore, Death Metal, dan Deathcore. Setelah mendengarkan musik yang mereka mainkan, tidak sulit untuk mengatakan bahwa mereka mendapatkan banyak pengaruh dari band-band seperti Converge, The Dillinger Escape Plan, The Number 12 Looks Like You, Deafheaven bahkan Alice.

Saat ini Advark telah merilis EP perdananya bertajuk “Sangkala” yang dirilis pada Selasa (06/6) lalu. Bekerja sama dengan Disaster Records yaitu label rekaman independent asal Bandung, EP album Advark ini dirilis dalam format kaset pita. Sebelumnya Advark juga telah merilis single Geramus pada kamis (25/5), bebas unduh melalui kanal soundcloud Disaster Records. Menurut Advark, judul EP Sangkakala, diartikan sebagai suatu keadaan/situasi yg terjadi saat ini. “Kami melihat dari sudut pandang kami. Dimana kami mencoba merepresentasikan apa yang kami lihat ke dalam 4 lagu di EP album Sangkala ini” Unkap mereka. Dengan hadirnya rilisan tersebut, Advark akan menjadi sebuah nama yang akan mewarnai pergulatan skena musik bawah tanah Bali. Bukan tidak mungkin jika dalam waktu dekat band ini akan segera meroket dan diminati oleh para khalayak penikmat musik agresif di Bali dan Indonesia. (YS)