Indonesia memang kaya dalam segala hal, salah satunya yaitu musik. Beraneka ragam musik dan alat tradisional yang mendunia, membuat Indonesia semakin terlihat mempesona di mata dunia. Sebagai sebuah negara yang meliputi ribuan pulau yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, tentunya lahir, tumbuh dan berkembang berbagai budaya daerah. Salah satunya adalah seni tradisional yang merupakan jati diri, identitas dan media ekspresi dari masyarakat.

Hampir seluruh wilayah Indonesia mempunyai seni musik tradisional yang khusus dan khas. Seni tradisional dari Indonesia sebenarnya sudah ada sejak zaman nenek moyang Pun begitu, dewasa ini banyak dari kita yang merupakan generasi sekarang sedikit melupakan apa yang telah menjadi tradisi. Berangkat dari hal tersebut, ketiga pemuda asal Sukawati, Gianyar ini membentuk sebuah kelompok musik bernama Masekepung. Kelompok ini hadir dengan konsep musik yang sederhana yang dipadukan dalam konsep kontemporer.

Masekepung memang berbeda. Selain jarang ditemui di Indonesia, dalam berkarya Masekepung bertumpu pada tradisi dan adat istiadat Bali, mereka mengolaborasikan genjek dengan alat musik modern dalam setiap karya lagu mereka sehingga terdengar menarik dan unik. Bisa dikatakan band ini terbentuk karena keprihatinan terhadap seni musik tradisional di Indonesia yang terancam kian terpinggirkan. Hal tersebut merupakan upaya mereka untuk menjaga kelestarian budaya asli Bali. Sebab unsur musik tradisional saat ini dianggap sebagai hal yang ketinggalan jaman oleh anak-anak muda yang sudah terkena gempuran musik barat. Dengan konsep yang berbeda dengan grup musik kebanyakan, tidak heran bila Masekepung akhirnya bisa dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Lirik lagu yang mudah dipahami dan juga diselingi genjek semakin membuat pendengarnya terhipnotis. Meski begitu, lagu-lagu yang mereka bawakan selaras dengan perkembangan zaman dengan banyak membicarakan apa yang terjadi di lingkungan masyarakat Bali saat ini.

01. Hallo Masekepung, sebelum kita berbicara lebih jauh, tolong perkenalkan dulu siapa saja orang-orang di balik masekepung ini? dan kesibukan kalian masing-masing di luar Masekepung?

Hallo2, Masekepung terdiri dari Ryos (vokal / guitar), Nahox (bass), Lenjong (jimbe). Kesibukan kami di luar Masekepung adalah bekerja.

02. Semenjak kapan kalian berdiri dan membentuk masekepung?

Kami resmi berdiri pada 9 november 2014..

03. Kalau boleh saya tau apa yang melatarbelakangi kalian dalam membentuk proyek ini?

Semuanya di awali dari kumpul-kumpul bersama hingga akhirnya muncul inspirasi dan keinginan untuk bikin band. Serta kami ingin menjaga tradisi dengan mengenalkan kembali musik tradisional ke khalayak.

04. Kenapa memilih nama band Masekepung? Apa filosofi tertentu dibalik pemilihan nama tersebut?

Karena kami ingin sesuatu yang berbeda saja dan memiliki filosofi yang bisa mewakilkan dari musik yang kami tawarkan. Masekepung itu maseke (kelompok / perkumpulan) pung kita artikan bermusik seperti gamelan yang kelompoknya banyak.

05. Bagaimana kalian mendeskripsikan musik yang kalian mainkan saat ini? Dan siapa saja musisi atau seniman yang banyak mempengaruhi kalian secara musikalitas?

Kami memainkan musik yang sederhana saja yang kami padukan dengan unsur tradisional dengan banyak memasukkan nuansa vokal bersautan dari banyak orang seperti koor.

06. Mengingat kalian memadukan genjek dalam musik kalian, kalau boleh tau bagaimana proses kalian dalam menciptakan sebuah karya?

Hal pertama yang kami lakukan adalah cari nada dan lirik, setelah merasa cocok baru kita kumpulkan seke cak untuk mengisi genjek dengan bersama..

07. Lalu untuk konsep dan temanya sendiri, hal apa yang banyak mengilhami Masekepung dalam menciptakan sebuah lagu?

Keseharian kita dilingkungan (sosial) mengilhami kita untuk menciptakan lagu yang berpesan untuk mengingatkan satu sama yang lainnya..

08. Berbicara tentang album “Tuak Adalah Nyawa”, gimana respon dari pendengar sampai saat ini?

Sejauh ini responnya positif, banyak yang suka dan mendukung langkah kami untuk berkesenian. Dan mudah-mudahan kehadiran kami semakin bisa diterima oleh masyarakat.

09. Setelah keluarnya album tersebut, apakah kalian bisa ceritakan berapa lama dan bagaimana proses pengerjaannya?

Prosesnya cukup lama, sama halnya seperti band-band yang lain saat merekam karyanya. Proses pengerjaannya juga kurang lebih hampir sama dengan band lain, pertama kami merekam gitar, setelah itu masuk bass, jimbe dan terakhir vocal beserta genjek.

10. Ada kesulitan saat merekam suara genjek dari tiap lagu yang ada di album tersebut?

Seperti yang kita tau, genjek itu terdiri dari banyak orang dengan karakter suara yang berbeda pula. Jadi kesulitan yang paling sering kita temui saat rekaman adalah saat merekam bagian vokal genjeknya. Dimana kita diharuskan  untuk terus mengulang vokal genjek tersebut sampai mendapat suara yang pas dan maksimal.

11. Apa pesan dan kesan yang kalian ingin sampaikan kepada pendengar lewat album tersebut?

Lestarikan budaya adat di bali melalui bermusik… Karena kami ingin masyarakat memiliki kesadaran tentang kebudayaan Bali utamanya musik tradisional. Kami ingin membuat musik tradisional menjadi populer dan tidak dianggap kuno. Mohon dukungannya.

12. Lagu “Tuak Adalah Nyawa” adalah lagu yang sangat booming, saat menciptakannya sempat kepikiran gak kalau lagu tersebut akan sebooming ini? Dan apakah hal tersebut mempengaruhi kehidupan dari Masekepung saat ini sebagai seorang seniman yang sudah mulai diperbincangkan keberadaannya karena eksistensinya pada jalur musik ini?

Kami sebenarnya tak meyangka jika lagu “Tuak Adalah Nyawa” tersebut akan boming seperti ini. Untuk saat ini kami belum terpengaruh, jadi kami masih sibuk bekerja di luar band. Pun begitu kami tetap akan berusaha untuk menjaga kekompakan kami agar bisa menghasilkan karya-karya baru yang bisa dinikmati oleh masyarakat.

13. Menjadi salah satu band yang bisa dibilang memicu trigger pergerakan musik yang memadukan unsur tradisional Bali dalam musiknya gimana rasanya?

Sangat bangga sekali, karena seperti yang sudah kami katakan sebelumnya, tujuan utama kami dalam bermusik adalah untuk melestarikan budaya bali.

14. Sebagai band yang memasukkan unsur tradisional dalam musiknya, bagaimana pandangan kalian tentang gaya musik di indonesia yang terkenal banyak mengadopsi dari luar?

Biasa saja menurut kami, karena bagi kami namanya musisi itu ya bebas berkarya sesuai dengan apa yang mereka mau dan inginkan.

15. Lalu untuk pendengarnya sendiri apa tanggapan kalian terhadap anak muda yang tidak mau mendengarkan musik tradisional karena takut dibilang “kuno”?

Sebenarnya itu terserah mereka, karena disini tujuan kami hanya ingin untuk melestarikan adat istiadat Bali. Tapi kami yakin suatu saat nanti kami mereka juga akan bisa membuka diri dan mulai ikut melestarikan adat budaya Bali terutama lewat musik.

16. Selain memasukkan unsur genjek, adakah keinginan dari Masekepung untuk berkolaborasi dengan seniman-seniman lain di konser-konser berikutnya?

Sebenarnya kami ingin sekali, karena kami juga ingin belajar lebih dari para seniman yang sudah tenar, karena kami belum ada apa-apanya dan masih perlu banyak belajar lagi.

17. Apa rencana kalian selanjutnya?

Rencana selanjutnya yah, mungkin kita akan tetap berkarya.. Dan mudah-mudahan karya terbaru kami bisa terwujud di tahun 2018 sehingga tetap bisa menghibur masyarakat, dan semoga musik kami bisa lebih diterima lagi.

18. Saya rasa itu saja, terima kasih atas waktunya, ada yang ingin kalian sampaikan kepada para pembaca Pica Magz?

Mohon dukungan dan supportnya untuk Masekepung. (YS)