Grup rock pendatang baru asal Bandung, TMR resmi memperkenalkan single perdananya berjudul “Different Class”. Perilisan ini sekaligus sebagai penanda atau mukadimah dari Aldy Manopo (vokal), Nissan Fortz (gitar), Luky Kusumah (gitar), Sandi Lesmana (bas) dan Marissa Sutanto (drum) menuju album panjang pertama mereka—yang bila tidak ada aral melintang akan disebar dalam waktu dekat.



Lagu “Different Class” sendiri merupakan potret mengenai bisnis prostitusi di penjuru bumi ini. Seperti diketahui, praktik prostitusi merupakan salah satu bisnis tertua dan kehadirannya begitu akrab dengan populasi manusia, bahkan sejak era lampau. Seiring berkembangnya zaman, bukannya menghilang (nyatanya) bisnis ini ikut berkembang pesat dan pelakunya tidak pernah surut. Levelnya, pun datang dari pelbagai golongan. Hal inilah yang kemudian dituangkan oleh Luky Kusumah selaku penulis lirik. 

Sedang di sisi musikal, “Different Class” menawarkan leburan beragam jenis musik, sebut saja heavy metal, rock n’ roll hingga grunge. Kemudian Nissan Fortz selaku motor pembuat musik, mengemasnya dengan beat yang tegas, riff yang khas dan sound yang terdengar lebih kotor (baca: berisik)—seperti mengajak setiap orang untuk tidak berdiam diri saat mendengarnya. “Different Class” dalam hematnya dikerjakan dengan metode rekam live recording di Escape Studio, Bandung pada pertengahan September 2018. Adapun juru rekamnya dipercayakan kepada engineer, Fey Laz, sosok yang juga ditunjuk untuk memoles hasil akhir audio atau mixing, mastering. 

Sebagai pemanis estetika, “Different Class” turut didampingi cover single yang dikerjakan oleh fotografer muda bernama Nurshandi Satia Ginanjar. Lagu berdurasi empat menit lebih ini, dapat didengar dalam format digital dipelbagai layanan streaming service, mulai dari Spotify, iTunes, Deezer dan lain sebagainya terhitung Jumat, 26 Oktober 2018.

TMR lahir atau bermula dari sebuah riff gitar yang dibuat oleh Nissan Fortz—solois yang dikenal karena kemahirannya memainkan gitar akustik. Riff yang dibuat Nissan Fortz ini lantas disampaikan kepada rekannya, Luky Kusumah (Bohemians). Gaung bersambut, Luky Kusumah merasa riff yang dibuat Nissan Fortz layak menjadi sebuah lagu utuh. Setelah ngalor-ngidul, akhirnya Nissan Fortz dan Luky Kusumah bersepakat membuat sebuah project music. Aldy Manopo (Amviby), Marissa Sutanto (dikenal sebagai session player dari berbagai musisi top) dan Sandi Lesmana (Triple T) kemudian melengkapi formasi TMR. TMR sendiri merupakan unit musik yang memiliki filosofi bentuk penolakan secara halus atas sisi negatif sebuah kondisi euforia, baik dunia nyata maupun dunia maya. Hal ini merujuk pada akronim jenaka yang berasal dari bahasa pergaulan di tanah Sunda, yakni Tong Milu Riweuh (baca: Jangan Ikut Ruwet).