Setelah sebelumnya merilis single “Banda” sebagai pengantar perilisan album perdananya, ‘Adendum’, grup musik Glaskaca kembali merilis “Banda” dalam format berbeda. Dalam single versi reprise kali ini, Glaskaca menghadirkan sisi lain pada lagu tersebut.

“Instrumen yang digunakan pada ‘Banda’ versi reprise memang hampir semuanya beda dari yang versi pertama,” jelas Dias Widjajanto sebagai vokalis/gitaris. “Lagu ini memiliki berbagai sisi yang bisa dilihat. Sisi apakah itu, kami tidak ingin memberikan batasan, biar pendengar yang mengintepretasikan sendiri.” Melalui instrumen yang berbeda, penabuh drum Nugroho Aldianto juga menjelaskan keinginannya.

“Semoga pakai instrumen yang beda juga bisa mengantarkan pesan yang sebelumnya nggak tersampaikan di lagu versi sebelumnya,” paparnya. Sebelumnya, melalui lagu “Banda”, Glaskaca membuktikan ruang bermusiknya yang tidak terbatas. “Lagu ini terdengar berbeda dari lagu lainnya di dalam album ‘Adendum’ karena kami betul-betul nggak ngasih batasan dalam bermusik, jadi kami bebas mengeksplorasi seluas-luasnya,” ujar Rayhan Noor, gitaris sekaligus pencipta lirik.

Turut terangkum dalam album ‘Adendum’, rilisan tunggal kali ini menyuarakan tentang momen refleksi diri manusia. “Kepulauan Banda menggambarkan fase perenungan itu sendiri. Menyepi, menjauh sebentar dari pusaran,” jelas Rayhan lagi. “Di saat yang sama, pulau itu juga ngasih pesan untuk jangan takut dan terus berjuang. Seperti pulau-pulau di Banda, walaupun kecil dan dikelilingi laut yang sewaktu-waktu bisa ganas, tapi masih bertahan dan tetap indah.”

Lahir dan besar di Jakarta tahun 2013, Glaskaca yang terdiri dari Dias Widjajanto (Dias) sebagai vocal/gitar/synth, Rayhan Noor (Rayhan) pada gitar, dan Nugroho Aldianto (Aldi), telah merilis album debutnya Adendum pada 2018 lalu. Terdiri dari 8 materi, Glaskaca sebelumnya sudah dikenal melalui single yang dilepas dahulu, yaitu “Putih”, “Atom”, dan “Banda”. Kini Glaskaca semakin memperdalam eksplorasinya dalam bermusik.