Setelah beberapa waktu lalu merilis single ‘Pralaya’ dan ‘Sediakala’, Kini Dialog Dini hari (DDH) hadir dengan album penuh yang bertajuk ‘Parahidup’. Album baru tersebut hadir setelah trio folk asal Bali ini absen hampir lima tahun dalam berkarya.

Sebagai band, DDH bisa dikatakan cukup sibuk. Terlebih sejak rilisan “Tentang Rumahku” dilempar ke khalayak. “Umur album Tentang Rumahku cukup panjang. Itu membuat kami agak terlena,” jelas Pohon Tua, vokalis dan gitaris sekaligus penulis lirik utama Dialog Dini Hari melalui siaran pers yang kami terima.

Sepanjang interval waktu lima tahun, memang ada banyak hal terjadi. Pohon Tua dan Zio (vokal, bas dan keyboard) merilis proyek solo, sementara Putu Deny Surya sibuk bekerja di belakang layar mengerjakan banyak album milik kawan-kawan dari Bali sebagai seorang sound engineer.

Dalam sebuah momentum saat mereka duduk bersama, para personil DDH sepakat bahwa band yang mereka gawangi harus terus berevolusi. Salah satu caranya dengan memberi kontribusi terhadap setiap karya yang mereka ciptakan. “mengaplikasikan apa yang kita alami dan pelajari. Apapun topik bahasannya. Banyak hal baru pastinya.” Lanjut Pohon Tua.

Album ‘Parahidup’ mengandung pendekatan musikal yang baru. Mereka coba memadukan apa yang terjadi dan berpengaruh hari ini serta memaksimalkan instrumen yang mereka pergunakan. Bagian pengembangan yang paling terasa dalam album yang berisikan sebelas lagu tersebut adalah penggunaan sampling dan peran keyboard yang mulai medapat tempat.

“Kami mengajak pendengar menjejalah batas-batas bermusik tiap personil. Didobraknya sekat-sekat mental harus begini, harus begitu. Kami memilih untuk tidak peduli lagi, biarkan lepas saja,” kata Pohon Tua.

Parahidup dirilis pada Rabu, 17 Juli 2019 di sejumlah kanal musik digital. Versi fisiknya dalam bentuk deluxe dan merchandise khusus akan dirilis dalam sebuah pesta rilis album yang akan diselenggarakan di Jakarta pada bulan Agustus 2018 mendatang. “Kami cukup gembira, pencapaian band ini tentang bagaimana memberi inspirasi ke pendengar. Orientasinya selalu ke sana. Kalau sukses secara materi, itu bonus. Niatnya, kami ingin selalu memberikan yang terbaik pada pendengar, ini yang kami miliki sekarang.

Dari penulisan lagu, tidak ada tema khusus yang coba diusung oleh Dialog Dini Hari. “Bisa dibilang masih sama kok, mental kami folk. Musik folk itu kan bicara tentang sensitivitas sosial. Kebiasan manusia pada umumnya, kami tetap berbicara itu. Kami merekam kejadian manusia, alam dan permasalahannya yang membuat saya sebagai penulis lirik tidak pernah kehilangan ide. Masalah kita sebagai manusia itu banyak sekali,” canda Pohon Tua.