Kuartet heavy rock kota Denpasar, Jangar baru-baru ini telah merilis album perdana mereka, ‘Jelang Malam’, pada Selasa (1/10). Album yang dirilis oleh Berita Angkasa, sebuah label yang menaungi Kelompok Penerbang Roket, Kurosuke, Rafi Muhammad, dan Sapphira Singgih ini berisi sepuluh materi lagu dengan tema sosial politik, kematian, kelahiran, hingga alam baka yang di semuanya dirangkum dengan baik dengan musik rock bertegangan tinggi.

Band yang diperkuat oleh Gusten (vokal), Pasek (drum), Dewa Adi (gitar), dan Raibio (bass) ini sebelumnya telah merilis beberapa karya berupa single yang rilis di kanal musik streaming dan juga musik video. Album perdana Jangar ini berisi sepuluh lagu yang bernuansa heavy rock dengan sedikit sentuhan psychedelic rock yang mewarnai lagu-lagunya. Pada album ini Jangar berkolaborasi dengan Rian Pelor (ex-Auman, ex-Dagger Stab, Detention) dan Doddy Hamson (Komunal), kedua musisi ini masing-masing berkolaborasi pada lagu ‘Negri Nego’ dan ‘Haerath, Pt.1′.

Pemilihan kedua musisi ini sangat tepat, karena kita tahu kedua nama tersebut telah malang-melintang dan konsisten sejak lama memainkan musik ngebut bertema heavy rock maupun subgenre musik keras lainnya. Album ‘Jelang Malam’ dari Jangar ini menawarkan rock yang ngebut dengan riff-riff gitar yang cepat disertai irama melodi gitar rock n’ roll yang sangat khas. Dari segi lirik Jangar masih banyak berbicara tentang keresahan sosial politik pada lagu ‘Negri Nego’, dan berbicara alam bawah sadar pada lagu kesurupan serta lirik yang sedikit surreal penuh analogi dari lagu berjudul ‘MSG’.

Tidak hanya berkolaborasi di musik, Jangar juga berkolaborasi untuk pembuatan sampul albumnya, pada bagian artistik visualnya, album ‘Jelang Malam’ ini dibuat oleh Morgg yang juga aktif sebagai bassist dan vokal utama dari band grindcore asal Bandung Rajasinga

Melalui rilis pers, band yang diperkuat oleh Gusten (vokal), Pasek (drum), Dewa Adi (gitar), dan Raibio (bass) ini menceritakan bahwa “Jelang Malam” bercerita tentang ketika matahari mulai menutup hari dan gelap malam mulai membayangi; di pertemuan putih dan hitam tersebut berbagai hal kerap terjadi. Saat malam menjelang, ada yang datang dan pergi, alam fana dan alam baka terkoneksi, tidak ada yang benar dan salah, segalanya menjadi abu-abu.

“Kami tidak ingin menjadi siang, yang carut marut dengan kesibukan fana manusia, atau menjadi malam sebagai dunia makhluk-makhluk baka. Kami ingin ada di antaranya. Hidup dengan mereka yang kami kasihi, serta tetap mengenang mereka yang telah pergi,” ujar Pasek. Album ini dirilis oleh label rekaman asal Jakarta, Berita Angkasa dalam format CD dan digital. Bisa didapatkan di toko musik di berbagai kota di Indonesia.

(Jangar Photo Oleh: Ucok Olok)